





Bingkisan rindu buat pejuang dan as-syahid Islam...
Sedekahkanlah sekalung Al-Fatehah buat pejuang Islam SYEIKH AHMAD YASSIN. Semoga Allah menempatkannya dalam kalangan umat yg soleh... Hayatilah juga perjuangannya.
p/s: semoga mbangkitkan semangat jihad
Ahad, 19 April 2009
The Martyr Of Syeikh Ahmad Yassin
Dicatat oleh Izzan Fahat di 11:37:00 PTG 11 ulasan
Jumaat, 17 April 2009
Barang Siapa Kenal Diri Maka Kenallah Akan Tuhannya
Mengenal Allah
Soalan:
Apakah maksud yang dikatakan ‘barang siapa kenal diri maka kenallah akan tuhannya’?
Jawapan:
Salah satu cara mengenal Allah ialah dengan mengenal diri sendiri. Maksudnya ialah hakikat diri yang sebenarnya. Adapun maksud diri yang sebenarnya itu bukanlah diri yang bersifat lahiriah, kerana jasad ini tidak membawa makna yang sebenar untuk mengenal Allah SWT.
Pada abad moden ini ramai dikalangan kita tidak mengenal dirinya yang sebenar. Mereka menganggap bahawa dirinya hanyalah tubuh badan yang terdiri daripada kulit, daging, tulang, darah dan sebagainya. Yang dimaksudkan dengan sebenarnya ialah diri yang batin iaitu diri yang datang dan akan kembali kepada Allah SWT.
Ulama ilmu ketuhanan atau ilmu tauhid berpegang bahawa diri kita ini merupakan tangga untuk mengenal Allah, sesuai dengan dalil yang mengatakan: “Siapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya ia akan mengenal Tuhan-nya”. Dikalangan ulama tasauf atau ulama ilmu ketuhanan selalu menasihatkan carilah diri kamu di dalam diri”, maksudnya ialah menyuruh agar kita mencari hakikat diri kita yang sebenarnya terlebih dahulu. Apabila kita telah menemukan diri kita yang sebenarnya pasti kita akan mengakui hakikat adanya Allah SWT.
Hakikat diri yang sebenarnya merupakan roh atau jiwa ataupun rohani yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang harus dikenali setiap manusia. Diri batiniah ini tidak dapat dilihat atau diraba oleh mata lahiriah dan tangan manusia. Walaupun di dalam Al Quran “diri” itu disebut dengan berbagai istilah, tetapi tujuannya adalah untuk mengingatkan kepada manusia supaya berfikir bahawa betapa luasnya “diri” yang hakikat itu di dalam manusia. Diri manusia dilengkapi oleh Allah dengan sifat-sifat tertentu, kemudian sifat-sifat tersebut dinilai atau dihisab samada baik ataupun buruk.
Firman Allah SWT maksudnya:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertnggungjawapannya”. (Al Isra’ 36)
Allah menjelaskan kepada kita tentang istilah jiwa dan sifat yang terdapat pada jiwa, iaitu pendengaran, penglihatan, disamping roh juga akan diuji tentang ketakwaannya kepada Allah. Itulah sebabnya ketika Allah berfirman kepada roh-roh atau jiwa sedia untuk berbakti dan melaksanakan perintah Allah SWT. Untuk melakukan dan melaksanakan perintah tersebut maka diciptakanlah jasad, lalu Allah menjadikan Adam. Roh telah berikrar dan berjanji kepada Allah, maka untuk membuktikan dan berbuat sesuatu maka roh memerlukan tempat iaitu jasad.
Istilah batin disebut juga dalam Al Quran dengan qalbi. seandainya qalbi tersebut diterangi dengan nur maka selamatlah seseorang itu. Maka sekiranya tiada nur, gelaplah seseorang itu. Qalbi mesti mempunyai asas yang membolehkannya selamat yang hanya Allah menentukannya. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada dalam diri berupa nafas, akal, nafsu dan roh bila menjadi satu maka dinamakan dengan insan.
Qalbi di dalam Al Quran diistilah sebagai diri atau hati. Qalbi sebenarnya mengetahui apa yang patut dibuat dan apa yang patut dilaksanakan mengikut nilai-nilai diri itu sendiri. Firman Allah SWT maksudnya:
“Sesungguhnya berbahagialah sesiapa yang membersihkan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (As Sham, 9 - 10)
Jadi untuk merealisasikan pengertian bahawa siapa yang mengenal dirinya akan mengenali
Tuhan-nya itu, iaitu dengan cara memahami hakikat roh, jiwa atau qalbi yang sebenarnya. Sesungguhnya untuk mencapai ke tahap yang tinggi memerlukan pengetahuan dan keyakinan yang kukuh terhadap Allah SWT. Wallhu A’lam.
Dicatat oleh Izzan Fahat di 6:00:00 PG 9 ulasan
Isnin, 6 April 2009
Bulan Penuh Cantik Berseri
Ana sayangkan Islam...demi sebuah perjuangan yang tidak berpenghujung...
Orang Bukit Gantang
Jangan salah tatang
Undi bukan sebarang
Jangan ditipu senang
Masuk penjara mudah sahaja
Keluar pun bila-bila suka
Tangis derita dan air mata
Tidak diendah tidak berharga
Nilai jangan sehari dua
Sejarah sesekali jangan dilupa
Adil saksama bukan bahan senda
Sehari buat setahun buat-buat lupa
Manusia dipegang pada janjinya
Parti dinilai pada dasarnya
Manis berkata hanya sandiwara
Kalau ideologi masih serupa
Orang Bukit Gantang
Jangan salah orang
Pangkah terang-terang
Bulan bersinar mengambang
http://saifulislam.com/
Dicatat oleh Izzan Fahat di 7:56:00 PTG 5 ulasan
Label: Alhamdulillah...
Selasa, 31 Mac 2009
Akhlak Juru Dakwah - Sikap Halus Dan Sabar



Akhlak Juru Dakwah - Sikap Halus Dan Sabar
Dikutip dari buku: Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar
karya Ibnu Taimiyah
Amar ma’ruf nahi munkar harus dengan cara halus. Rasulullah saw bersabda:
“Allah bersifat sangat halus, menyukai sikap halus dalam
semua urusan; dan Dia memberi karena sikap halus itu, sesuatu yang tidak akan Dia berikan karena sikap kasar” [HR Muslim]
Juru dakwah (yg melakukan amar ma’ruf nahi mungkar) harus bersifat hilm dan tabah (sabar) terhadap setiap gangguan - sebab ia mesti menemui gangguan. Jika tidak hilm dan sabar, akan lebih banyak membawa mafsadat daripada maslahat.
Dalam kisah Al Qur’an, Luqman berkata kepada puteranya:
“Hai anakku, dirikan sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yg ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [QS 31:17]
Karena itu Allah menyuruh bersabar kepada para RasulNya (pemimpin amar ma’ruf nahi mungkar) seperti firmanNya kepada RasulNya terakhir - bahkan disertai dengan penyampaian risalah.
Firman Allah yang merupakan pengangkatan terhadap Muhammad sebagai RasulNya adalah surat Al Mudatsir yang diturunkan sesudah Al ‘Alaq. Sedang dengan Surat Al ‘Alaq, beliau diangkat sebagai Nabi. Dalam surat Al Mudatstsir itu Allah berfirman:
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berikan peringatan. dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah.” [QS 74:1-7]
Allah memulai ayat-ayat risalah (kerasulan)-Nya kepada makhluk dengan menyuruh memberi peringatan, dan mengakhirinya dengan menyuruh sabar.
Allah berfirman:
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami...” [QS 52:48]
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhi mereka dengan cara baik.” [QS 73:10]
“Maka bersabarlah kamu seperti bersabarnya orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para Rasul..” [QS 46:35]
“Maka bersabarlah kamu (wahai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan jangan kamu seperti orang yang berada dalam” (perut) ikan (Nabi Yunus)...” [QS 68:48]
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan” [QS 16: 127]
“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada
menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.” [QS 11:115]
Karena itu, dalam tugas kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar harus ada 3 perkara :
ilmu, halus dan sabar.
Ilmu harus sudah dimiliki sebelum melakukan tugas kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, Sikap halus harus bersamaan dengan pelaksanaan tugas, dan sifat sabar sesudah pelaksanaan tugas, meski sebenarnya ketiganya harus ada dalam semua keadaan. hal tersebut -sebagaimana bersumber dari atsar dari sebagian orang-orang salaf yang diriwayatkan secara marfu’- diriwayatkan oleh Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitab Al-Mu’tamad:
“Tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar kecuali orang yang paham (punya ilmu) tentang apa yang ia suruhkan, paham tentang apa yang ia cegah, bersikap halus dalam apa yang ia suruh dan cegah, dan bersifat hilm (sabar) dalam apa yang ia suruh dan cegah.”
Dan ketahuilah, disyaratkan ketiga itu dalam amar ma’ruf nahi mungkar merupakan sesuatu yang menimbulkan kesulitan terhadap orang banyak. Maka disangka bahwa dengan itu kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar gugur dari mereka, hingga mereka tidak melakukannya. Terkadang yang demikian bisa memberi mudharat lebih banyak daripada mudharat yang ditimbulkan oleh amar ma’ruf nahi mungkar tanpa syarat itu, atau terkadang mudharatnya lebih sedikit. Sebab meninggalkan perintah wajib adalah maksiat, dan mengerjakan apa yang dilarang Allah, juga maksiat. maka orang yang pindah dari satu maksiat ke maksiat lain, bagai orang mencari perlindungan dari tanah yang sangat panas kepada api, atau seperti orang pindah dari satu agama sesat ke agama lain yang sesat pula. Terkadang yang kedua lebih buruk daripada yang pertama, bahkan sebaliknya, atau keduanya sama.
Maka bisa jadi Anda mendapatkan orang yang melalaikan amar ma’ruf nahi mungkar dan orang yang melampaui batas, kadang dosa yang satu lebih besar, bahkan dosa lainnya lebih besar, atau kedua-duanya sama.
Dicatat oleh Izzan Fahat di 5:57:00 PG 0 ulasan
Label: sayangi ulama
Isnin, 30 Mac 2009
Anak Soleh
Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah SWT. Setiap kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia akan bercakap dengan Allah SWT. Nabi Musa sering bertanya dan Allah SWT akan menjawab pada waktu itu juga. Ini lah kelebihannya yang tiada pada nabi-nabi lain. Suatu hari Nabi
Musa bertanya kepada Allah SWT...
“Ya Allah siapakah orang yang di syurga nanti akan berjiran dengan aku ?”
Allah SWT menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawapan Nabi Musa turun dari bukit dan terus berjalan menuju ke tempat yang diberitahu.
Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya beliau sampai ke tempat berkenaan. Dengan pertolongan beberapa penduduk di situ beliau berjaya bertemu dengan orang tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tuan rumah tidak melayan Nabi Musa dan terus masuk ke bilik dan melakukan sesuatu. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor khin’zir betina yang besar dan didokong dengan cermat. Nabi Musa terkejut dan bertanya “Apa hal ini ?” di dalam hatinya penuh kehairanan. Khin’zir itu dimandikan dan dibersihkan dengan baik, dikeringkan, dipeluk dan diciumnya. Selepas itu orang tersebut membawa keluar pula seekor khin’zir jantan dan dilakukan serupa dengan khin’zir betina tadi.
Setelah selasai tugasnya, barulah orang itu melayan Nabi Musa dan lalu bertanya,
“Wahai saudara, apa agama kamu ?”.
“Tauhid agamaku”, jawab orang itu iaitu agama Islam.
“Mengapa kamu membela khin’zir, kita dilarang berbuat begitu”, kata Nabi Musa.
“Wahai tuan hamba, sebenarnya kedua-dua ekor khin’zir itu adalah kedua ibu-bapaku”, terang orang itu. “Oleh kerana kedua-dua mereka telah melakukan dosa besar, Allah SWT
telah menukarkan rupa mereka kepada khin’zir. Soal dosa mereka dengan Allah adalah urusan mereka dan urusan Allah. Aku sebagai anaknya akan berbakti dan tetap melaksanakan kewajipan sebagai anak sepertimana yang tuan hamba lihat tadi walaupun mereka telah bertukar menjadi khin’zir”, jelas dengan orang itu lagi.
“Setiap hari aku berdoa kepada Allah SWT agar dosa mereka diampunkan serta menukarkan wajah mereka seperti manusia biasa”, tambah orang itu lagi. Maka ketika itu juga Allah SWT menurunkan wahyuNya kepada Nabi Musa.
“Wahai Musa inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di syurga nanti, daripada hasil baktinya yang terlalu tinggi kepada kedua ibu-bapanya, walau pun telah berubah kepada khin’zir. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak yang soleh di sisi Kami. Oleh kerana dia telah berada dimaqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami makbulkan doanya.”
Itulah berkat doa anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa kedua ibu-bapa. Walau macam mana buruk kedua ibu-bapa dan dosa kedua ibu-bapa kita, itu adalah bukan urusan kita. Urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sepertimana mereka menjaga kita sewaktu masih kecil lagi hinggakan dewasa. Walau banyak mana dosa yang dilakukan, urusan kita ialah memohonkan ampun kepada Allah SWT, semoga mendapat tempat di akhirat dan alam kubur. Erti kasih sayang kepada ibu bapa bukanlah wang ringgit, cukuplah dengan doa agar mendapat tempat di sisi Allah SWT.
Dicatat oleh Izzan Fahat di 5:03:00 PG 0 ulasan
Label: rindu kasih cinta
Sabtu, 21 Mac 2009
Luahan Hati Nurani...

Tuhan… Aku sering menangisi ujian darimu. Hingga kadangkala tiada lagi titisan air mata yang mampu kutumpahkan… Hanya kerana aku menanggapi insan kerdil ini sebagai insan lemah… Aku gagal bangkit seiring syiar yang Engkau gariskan. Namun, aku mulai sedar, tidak akan bermula sesuatu selagi ia belum disedarkan dari mimpi. Mimpi di dalam cermin hidup yang fana. Yang hanya menanti detik dan saat retak dan hancur berkecai... aku sedar...dan telah lama menyedarinya...Namun, kekhilafan diri hina ini menjadikan aku buta. Buta... dalam mata yang masih terbuka luas. Namun, baru kini ku sedar. Hatiku yang tertutup rapat. Terus hanyut di buai keasyikan keduniaan. Dunia ini tiada lain hanya persinggahan sementara dan sangat asing... Hanya sebagai bekalan untuk perjalanan hari esok... Namun, kadang kala aku masih tidak terlepas dari angan-angan kosong... Masaku hanyut, asyik dan leka dengan hilai tawa yang mendukakan. Beradu kasih mencari hiburan. Aku akui... Hari esok pasti kan menjelma. Namun, tetap aku sedari yang tiap saat yang menjelma dan hadir adalah belum pasti buatku... Aku mohon ampun sepenuh keampunan dari Mu Ya Tuhan. Ampunkanlah diri hambaMu yang lagi hina ini. Aku berniat seikhlasnya, selagi nyawaku di kandung badan, dan selagi matahari terbit di timuran, maka selagi itulah perjuangan hakiki akan kuteruskan... Salam Jihad...
Dicatat oleh Izzan Fahat di 11:25:00 PTG 3 ulasan
Label: epilog jiwa
Jumaat, 20 Mac 2009
25 Nasihat Luqman Al Hakim

Dengan apa yang telah diterangkan oleh AL-Quran berhubung dengan Luqman
Al-Hakim para ulamak telah memperincikan lagi perbicaraan Luqman dengan
anak-anaknya. menerusi satu riwayat dalam kitab Tafsir Ruhul Ma'ani dan
Kitab Hidayatul Mustarsyidin bahawa Luqman telah memberikan anaknya dua
puluh lima wasiat. Antaranya ialah:
1. Hai anakku, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam dan
banyak manusia yang karam di dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar
jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya
ialah iman dan layarnya ialah tawakkal kepada Allah.
2. Orang-orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima
nasihat, yakin dirinya akan mendapat penjagaan daripada Allah S.W.T. Orang
yang insaf dari kesalahan setelah menerima nasihat daripada orang lain, dia
akan sentiasa menerima kemuliaan dari Allah S.W.T. jua.
3. Hai anakku! Orang yang merasa dirinya lebih rendah di dalam
beribadah dan taat kepada Allah, maka orang itu akan sentiasa tawaduk kepada
Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan sentias menghindarkan dirinya
daripada melakukan maksiat.
5. Jauhilah dirimu dari berhutang, kerana sesungguhnya
berhutang itu akan menjadikan dirimu hina d waktu siang dan hina di waktu
malam.
6. Dan selalulah berharap kepada Allah tentang sesuatu yang
menyebabkan kamu menderhaka. Takutlah kepada Allah dengan benar-benar
takut, tentulah engkau akan terlepas dari sifat putus asa dari rahmat Allah
S.W.T.
11. Hai anakku! Bila engkau menghadapi dua pilihan, menziarahi orang
mati atau menghadiri mailis perkahwinan, maka hendaklah engkau memilih
menziarahi orang mati. Sebab menziarahi orang mati itu akan mengingatkan
kamu kepada akhirat, sedangkan menghadiri majlis perkahwinan itu hanyalah
akan mengingatkan kamu kesenangan duniawi sahaja.
12. Janganlah engkau makan atau minum yang berlebihan, kerana
sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu akan merosakkan diri dan
pemikiranmu, dan alangkah baiknya makanan yang lebih itu diberikan kepada
anjing sahaja.
15. Hai anakku! Bukanlah suatu kebaikan namanya apabila engkau selalu
mencari ilmu tetapi tidak engkau mengamalkannya. Hal itu tidak ubahnya
seperti orang yang mencari kayu api, setelah banyak terkumpul maka dia tidak
mampu memikulnya padahal dia masih terus mengumpulkannya.
16. Hai anakku! Apabila engkau ingin mencari teman sejati, maka
ujilah terlebih dulu dengan perkara yang menaikkan kemarahannya. Bilamana
dalam kemarahan itu dia masih berusaha untuk menginsafkan engkau, maka
bolehlah engkau ambil sebagai kawan, dan sekiranya bukan demikian maka
berhati-hatilah engkau terhadapnya.
17. Perbaikkanlah tutur katamu, halus budi bahasamu dan manis wajahmu,
kerana engkau akan disukai orang yang melebihi sukanya terhadap orang lain
yang pernah memberikan barang yang berharga kepadanya.
18. Hai anakku! Apabila engkau berteman, jadikanlah dirimu orang yang
tidak pernah mengharapkan daripadanya. Namun biarlah dia mengharapkan
sesuatu daripadamu.
19. Jagalah dirimu dalam setiap perkara sebagai seorang yang tidak
berhajatkan kepada pujian atau sanjungan dari orang lain, kerana
penguasaannya itu akan menyebabkan diri kamu beroleh.
20. Hai anakku! Usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata-kata
busuk, kotor dan kasar kerana engkau akan lebih selamat apabila berdiam
diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar dirimu akan mendatangkan manfaat
kepada orang lain.
21. Hai anakku! Janganlah engkau cenderung kepada dunia semata-mata dan
hatimu jangan disibukkan dengan urusan dunia semata-mata, kerana engkau
diciptakan Allah bukannya untuk urusan dunia sahaja. Tidak ada orang yang
lebih hina melainkan orang yang terpedaya dengan dunia semata-mata.
22. Hai anakku! Janganlah engkau terlalu mudah ketawa kalau bukan
perkara yang menggelikan, jangan engkau berjalan tanpa tujuan pasti,
janganlah engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada gunanya bagi diri kamu
dan janganlah engkau mensia-siakan harta dunia kamu.
23. Barangsiapa yang penyayang, sudah tentu akan disayang, siapa yang
suka berdiam diri sudah tentu akan selamat daripada berkata-kata tentang
perkara yang mengandungi racun, dan barangsiapa yang tidak mampu menahan
lidahnya daripada berkata kotor, sudah tentu akan menyesal.
24. Hai anakku! Bergaul mesralah dengan orang alim dan berilmu.
Perhatikanlah kata-kata dan nasihatnya kerana sesungguhnya akan sejuk hati
kamu mendengar nasihatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari
mutiara kata alim ulama bagaikan tanah yang subur disirami air hujan.
25. Hai anakku! Ambillah harta dunia sekadar keperluanmu, dan
nafkahkanlah yang selebihnya untuk akhirat. Jangan engkau tendang dunia ini
ke bakul sampah, kelak diri kamu akan menjadi pengemis yang membebankan
orang lain. Sebaliknya jangan engkau rangkul dunia ini dan meneguk habis
kerana sesungguhnya semua yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah
belaka. Jangan engkau bertemankan orang bodoh dan orang yang bermuka dua,
kerana akan aniayakan diri kamu.
Dicatat oleh Izzan Fahat di 9:11:00 PG 2 ulasan
Label: nilailah kelemahan diri sblm mencela keaiban saudaramu...



